Studi Kasus Perceraian di Pengadilan Agama Klungkung

Indonesia kini berada dalam peringkat tertinggi negara-negara yang menghadapi angka perceraian (marital divorce) paling banyak dibandingkan negara-negara berpenduduk Muslim lainnya. Berdasarkan data yang diungkapkan Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI. Prof. Dr. Nasarudin Umar, MA. Ia menjelaskan, pada beberapa tahun silam biasanya angka perceraian mencapai 60.000 per tahun. Pasca reformasi perceraian rata-rata naik menjadi 200.000 per tahun. “Bayangkan 2 juta orang kawin 200.000 yang cerai setiap tahun, jadi 10 persen,” katanya. Ironisnya, kata dia, dahulu perceraian yang terjadi akibat suami menceraikan isteri. Sekarang terbalik, justru isteri yang menggugat cerai. Sebanyak tiga per empat dari peristiwa perceraian itu bermunculan di kota-kota besar. Kebanyakan isteri yang menceraikan suami atau cerai gugat, bukan talak. Dari banyaknya peristiwa perceraian itu, diperkirakan 80 persen perceraian menimpa pada tatanan rumah tangga muda lima tahun, kata Nasaruddin Umar.

Dampak dari perceraian banyak, resiko sosialnya tinggi. Terlebih jika masih punya bayi dan jadi janda muda, katanya. Ia mengatakan, penyebab perceraian itu banyak, antara lain, persoalan ekonomi, ketidakcocokan, jarak sosial, intelektual, umur, cacat badan kecelakaan, dipenjara, menjadi TKI, dan politik.

Makalah Studi Kasus Perceraian

 

Leave a comment

Filed under Artikel

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s